Riau: Uniknya Tradisi Pacu Jalur Kuantan Singingi: Balapan Perahu Panjang sebagai Pesta Rakyat

Di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, setiap tahun masyarakatnya merayakan pesta akbar yang melampaui sekadar olahraga: Tradisi Pacu Jalur, yaitu lomba mendayung perahu panjang yang merupakan warisan budaya tak benda yang unik. Tradisi ini telah berakar kuat sejak abad ke-17, awalnya sebagai alat transportasi masyarakat di Sungai Kuantan sebelum berkembang menjadi kompetisi bergengsi. Tradisi Pacu Jalur adalah manifestasi dari semangat gotong royong, kekuatan fisik, dan nilai-nilai spiritual yang dipegang teguh oleh masyarakat Kuansing. Setiap perahu yang berlomba, yang disebut ‘jalur’, adalah simbol desa atau khalifah yang diwakilinya, dan kemenangan dalam perlombaan ini membawa kehormatan besar bagi seluruh komunitas.

Perahu atau ‘jalur’ yang digunakan dalam Tradisi Pacu Jalur memiliki ukuran yang fantastis; panjangnya bisa mencapai 25 hingga 40 meter dan dapat menampung 40 hingga 60 orang pendayung. Pembuatan jalur adalah proses sakral yang dimulai dengan ritual memilih pohon besar di hutan. Setelah ditebang, prosesi membawa jalur dari hutan ke sungai dilakukan secara gotong royong, diiringi doa dan ritual adat. Hal ini menunjukkan bahwa jalur bukan hanya sekadar perahu, tetapi juga benda keramat yang memiliki nilai spiritual tinggi. Perawatan jalur dilakukan oleh Tukang Rajo (tukang pembuat) dan tim yang bertugas menjaga keramat jalur, seringkali melalui ritual tertentu pada malam hari sebelum perlombaan.

Perlombaan itu sendiri adalah puncak perayaan yang biasanya diadakan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, sekitar tanggal 17 Agustus, di sepanjang Sungai Batang Kuantan. Ribuan penonton berkumpul di tepi sungai untuk menyaksikan persaingan yang ketat. Selain para pendayung, ada satu orang yang disebut Tukang Onjai atau Tukang Kayi yang berdiri di bagian tengah jalur, bertugas memberikan komando, ritme, dan semangat kepada tim.

Aspek unik lainnya adalah sistem perlombaan yang menggunakan sistem gugur. Perlombaan berlangsung beberapa hari, menciptakan atmosfer festival yang meriah. Untuk memastikan keamanan, terutama dengan membludaknya penonton dan aktivitas di sungai, tim gabungan yang terdiri dari aparat Kepolisian Resor Kuantan Singingi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ditugaskan khusus. Berdasarkan laporan keamanan tahunan, pada tahun 2024, setidaknya 50 petugas diturunkan untuk mengawasi area sungai dan jalur perlombaan, memastikan tidak ada insiden yang mengganggu jalannya pesta rakyat ini. Tradisi Pacu Jalur ini tidak hanya mempertahankan identitas budaya, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal Kuansing.