Tradisi Bakar Tongkang: Ritual Tionghoa di Bagansiapiapi, Rokan Hilir, yang Meriah

Di pesisir Rokan Hilir, Riau, terdapat sebuah kota kecil bernama Bagansiapiapi yang menjadi saksi bisu harmonisnya akulturasi budaya Tionghoa dan Melayu. Setiap tahun, kota ini menyelenggarakan sebuah festival yang sangat spektakuler dan emosional: Tradisi Bakar Tongkang, atau dikenal juga sebagai Go Cap Lak. Tradisi Bakar Tongkang ini adalah ritual tahunan yang diadakan oleh komunitas Tionghoa Hokkien di Bagansiapiapi untuk memperingati kedatangan leluhur mereka ke daratan Sumatera. Acara ini bukan hanya perayaan agama; ia adalah tontonan budaya yang meriah, menarik ribuan wisatawan dari berbagai penjuru dunia, dan menjadi simbol penguatan ikatan komunitas dan harapan akan rezeki yang melimpah.


Kisah Perjalanan Leluhur dan Simbol Harapan

Tradisi Bakar Tongkang selalu dilaksanakan pada tanggal 15 bulan kelima penanggalan Imlek. Ritual ini didasarkan pada kisah migrasi 18 orang leluhur Tionghoa dari Provinsi Fujian, Tiongkok, pada abad ke-19. Mereka berlayar menggunakan kapal kayu sederhana (tongkang) dan, setelah berbulan-bulan terombang-ambing di lautan, kapal mereka mendarat di Bagansiapiapi setelah melihat cahaya kunang-kunang. Sebagai ungkapan syukur karena telah selamat dan memutuskan untuk menetap, mereka membakar kapal tongkang tersebut, melambangkan tekad untuk tidak kembali ke tanah asal dan memulai hidup baru.

Ritual ini memiliki makna filosofis yang mendalam:

  1. Pengorbanan: Pembakaran kapal melambangkan penyerahan total terhadap tempat tinggal baru.
  2. Harapan: Asap yang membubung ke langit membawa doa dan harapan agar di tahun mendatang rezeki yang didapatkan lebih banyak dan kehidupan lebih baik.

Prosesi Ritual yang Meriah

Perayaan Tradisi Bakar Tongkang dimulai dengan upacara sembahyang di Kuil Tua Ing Hok Kiong, yang merupakan kuil tertua di Bagansiapiapi. Puncak acara terjadi pada sore hari, di mana replika tongkang kayu raksasa—yang telah dihiasi bendera, patung dewa, dan persembahan—diarak mengelilingi kota.

Massa yang mengikuti prosesi ini sangat besar, mencapai angka rata-rata 50.000 hingga 70.000 orang, seperti yang dicatat oleh Kepolisian Resor Rokan Hilir pada perayaan tahun 2023. Setelah diarak, tongkang dibawa ke lokasi pembakaran yang telah disiapkan. Momen pembakaran ini sangat ditunggu-tunggu karena masyarakat percaya pada ramalan arah rebah tiang tongkang. Jika tiang utama tongkang jatuh mengarah ke laut, diyakini rezeki tahun itu akan datang dari jalur laut (nelayan); jika jatuh ke darat, rezeki akan datang dari darat (perkebunan atau perniagaan).

Dampak Ekonomi dan Kebudayaan

Festival ini telah menjadi salah satu daya tarik wisata utama Riau. Peningkatan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara secara signifikan mendongkrak ekonomi lokal di sektor hotel, kuliner, dan kerajinan.

Dinas Pariwisata Riau mencatat pada Tanggal 18 Juli 2024, bahwa event Tradisi Bakar Tongkang menyumbang setidaknya 20% dari total pendapatan wisata tahunan Rokan Hilir. Keberlanjutan tradisi ini adalah contoh nyata bagaimana warisan budaya minoritas dapat menjadi kekuatan ekonomi dan pemersatu, memperkuat ikatan komunitas dan kerukunan antar etnis di Indonesia.