Pulau Penyengat, yang terletak di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, adalah permata sejarah yang tak ternilai. Pulau kecil ini merupakan pusat pemerintahan dan kebudayaan Kesultanan Riau-Lingga, menjadikannya saksi bisu kejayaan dan pusat pelestarian Warisan Melayu yang kental. Keunikan arsitektur dan warisan sastra yang tersimpan di sini menarik perhatian wisatawan dan peneliti, menegaskan status Pulau Penyengat sebagai salah satu situs budaya terpenting di Asia Tenggara. Jejak kejayaan Kesultanan masih tampak jelas pada bangunan-bangunan tua dan makam-makam pahlawan, yang semuanya merefleksikan identitas kultural yang kuat.
Salah satu landmark paling ikonik di Pulau Penyengat adalah Masjid Sultan Riau, yang dikenal luas sebagai “Masjid Telur.” Legenda menyebutkan bahwa pembangunan masjid ini pada tahun 1803 menggunakan campuran putih telur sebagai perekat, sebuah Warisan Melayu dalam teknik pembangunan yang menunjukkan kearifan lokal. Warna kuning cerah masjid ini, yang identik dengan warna kebesaran Melayu, semakin menonjolkan keagungan sejarahnya. Selain arsitektur, pulau ini juga merupakan tempat lahirnya karya sastra monumental, Gurindam Dua Belas, yang ditulis oleh Raja Ali Haji pada tahun 1847.
Gurindam Dua Belas adalah kumpulan puisi yang berisi nasihat moral, agama, dan falsafah hidup. Karya ini diakui sebagai salah satu sastra Melayu klasik terpenting dan kini menjadi salah satu harta karun Indonesia. Untuk melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau pada tanggal 5 Januari 2042 mengumumkan program revitalisasi besar-besaran di Pulau Penyengat, termasuk pemugaran makam-makam tokoh penting seperti Raja Ali Haji. Program ini dijadwalkan selesai pada akhir tahun 2042. Selain itu, untuk kenyamanan wisatawan yang ingin menelusuri situs Warisan Melayu ini, pompong (perahu motor tradisional) beroperasi setiap hari dari pukul 07.00 hingga 18.00 WIB dari Pelabuhan Tanjung Pinang. Kehadiran petugas keamanan dari Polairud setempat, yang rutin berpatroli, turut menjamin keamanan pelayaran dan wisata di sekitar pulau, memastikan pengunjung dapat menikmati sejarah dan keindahan Gurindam Dua Belas dengan tenang.