Perkembangan teknologi informasi telah mengubah lanskap kehidupan sosial secara drastis, tidak terkecuali di wilayah Provinsi Riau yang terus berkembang pesat. Saat ini, fenomena Gempuran Gadget telah masuk hingga ke pelosok desa, membuat akses informasi menjadi tanpa batas bagi siapa saja, termasuk anak-anak usia sekolah. Di satu sisi, teknologi ini memberikan kemudahan dalam belajar, namun di sisi lain, risiko ketergantungan dan paparan konten negatif menjadi ancaman nyata bagi kesehatan mental dan moral generasi muda. Tantangan bagi orang tua dan pendidik kini semakin kompleks karena mereka harus bersaing dengan algoritma media sosial yang sangat adiktif.
Terdapat sebuah Fakta Riau yang menunjukkan bahwa penetrasi internet yang tinggi di wilayah ini tidak selalu dibarengi dengan tingkat literasi digital yang memadai. Banyak remaja yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar hanya untuk hiburan pasif tanpa tujuan yang jelas. Kondisi ini diperparah dengan kemunculan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence yang semakin canggih. Jika tidak diarahkan dengan benar, teknologi ini bisa membuat remaja menjadi malas berpikir kritis karena segala sesuatu dapat diselesaikan secara instan oleh mesin. Inilah mengapa pendidikan karakter berbasis nilai-nilai lokal menjadi sangat relevan untuk kembali diperkuat.
Menemukan Cara Bentuk Karakter yang efektif di tengah arus digital memerlukan pendekatan yang kolaboratif antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Karakter tidak bisa dibentuk melalui perintah, melainkan melalui keteladanan dan pembiasaan. Orang tua di Riau perlu menerapkan batasan waktu penggunaan gawai dan memperbanyak aktivitas luar ruangan yang melibatkan interaksi fisik. Mengenalkan kembali permainan tradisional atau kegiatan kepramukaan dapat menjadi alternatif untuk mengasah empati, kerja sama, dan kedisiplinan yang sering kali hilang saat seseorang terlalu asyik dengan dunianya sendiri di ruang siber.
Memasuki Era AI, remaja harus diajarkan bahwa teknologi adalah alat, bukan tuan. Mereka perlu dibekali dengan kemampuan analisis untuk membedakan antara informasi yang valid dan berita palsu (hoaks). Integritas moral harus menjadi kompas bagi mereka saat berinteraksi di dunia digital. Penguatan nilai-nilai religius dan budaya melayu yang menjunjung tinggi kesantunan serta etika berkomunikasi dapat menjadi benteng yang sangat ampuh. Remaja yang memiliki karakter kuat tidak akan mudah goyah oleh tren sesaat yang merusak, melainkan mereka akan menggunakan teknologi AI untuk menciptakan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.