Implementasi Sekat Kanal atau canal blocking bertujuan untuk menahan air agar tidak keluar dari kawasan gambut. Pada masa lalu, banyak kanal dibuat untuk mengeringkan lahan demi kepentingan perkebunan, namun hal ini justru membuat gambut menjadi kering, keropos, dan sangat mudah terbakar. Dengan membangun sekat, permukaan air tanah pada lahan gambut dapat dipertahankan pada ketinggian tertentu. Lahan gambut yang basah secara alami akan sulit terbakar, bahkan saat suhu udara sangat ekstrem. Teknik ini terbukti menjadi metode yang paling efektif dan efisien dibandingkan dengan metode pemadaman api yang menghabiskan biaya sangat besar.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat di Riau mulai beralih menggunakan bahan-bahan alami untuk membangun sekat tersebut. Kayu-kayu lokal yang tahan lama dan tanah mineral digunakan untuk membendung aliran air di kanal-kanal kecil. Metode Cara Alami ini dipilih karena lebih menyatu dengan ekosistem sekitar dan tidak merusak struktur tanah gambut yang sensitif. Selain itu, keterlibatan masyarakat lokal dalam pembangunan dan perawatan sekat kanal menciptakan rasa memiliki yang tinggi. Mereka menyadari bahwa menjaga kelembapan lahan adalah kunci untuk menghindari bencana asap yang selama bertahun-tahun merugikan kesehatan dan ekonomi mereka secara sistemik.
Langkah ini merupakan bagian penting dari strategi besar untuk Cegah Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketika gambut tetap basah, fungsi ekologisnya sebagai penyimpan air tetap terjaga, sehingga saat musim hujan tiba, gambut bisa menyerap air dengan maksimal dan mencegah banjir di area hilir. Sebaliknya, saat musim kemarau, kelembapan yang tersimpan akan mencegah terjadinya titik panas atau hotspot. Rehidrasi lahan gambut melalui penyekatan kanal kini menjadi standar operasional bagi restorasi ekosistem di Riau, yang juga didukung oleh berbagai organisasi lingkungan internasional karena dampaknya yang besar terhadap pengurangan emisi karbon global.
Secara teknis, pembangunan sekat ini harus diperhitungkan dengan sangat teliti. Jarak antar sekat dan tinggi bendungan harus sesuai dengan kemiringan lahan agar air benar-benar meresap ke dalam Lahan Gambut di sekitarnya, bukan justru menggenangi area yang tidak diinginkan. Pemantauan tinggi muka air dilakukan secara rutin oleh kelompok peduli api di tingkat desa. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi lingkungan yang sukses adalah inovasi yang menggabungkan antara prinsip sains hidrologi dengan partisipasi aktif masyarakat akar rumput yang paling memahami karakter medan di wilayah mereka sendiri.