Perkembangan peradaban di Pulau Sumatera tak hanya didominasi oleh kerajaan-kerajaan Melayu, tetapi juga diwarnai oleh jejak sejarah agama Buddha yang monumental. Salah satu situs yang membuktikan hal tersebut adalah Candi Muara Takus. Kompleks percandian ini merupakan peninggalan Buddha yang unik dan dianggap sebagai yang tertua di Provinsi Riau, bahkan mungkin di Sumatera, dengan perkiraan usia pembangunan antara abad ke-4 hingga abad ke-11 Masehi. Keunikan utama dari Candi Muara Takus terletak pada bahan bangunannya yang sebagian besar menggunakan batu bata merah, berbeda dengan candi-candi di Jawa yang umumnya terbuat dari batu andesit. Candi Muara Takus menjadi bukti kuat adanya jalur pelayaran dan pusat studi agama Buddha di wilayah pedalaman Riau pada masa lampau.
Kompleks percandian ini membentang seluas kurang lebih satu hektare, dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari batu bata. Di dalamnya, terdapat beberapa bangunan utama, yaitu Candi Sulung, Candi Bungsu, Mahligai Stupa, dan Palangka. Mahligai Stupa, dengan bentuknya yang seperti menara tinggi, merupakan struktur tertinggi dan paling ikonik di kompleks ini. Bentuk stupa yang unik ini dipercaya dipengaruhi oleh gaya arsitektur India, Sri Lanka, dan Tiongkok, menunjukkan adanya interaksi budaya yang intensif. Candi Sulung, yang merupakan candi terbesar kedua, memiliki ciri khas bentuk teras berundak yang menjadi corak arsitektur khas Nusantara.
Berdasarkan penelitian arkeologi yang intensif, diperkirakan kompleks Candi Muara Takus merupakan salah satu pusat peribadatan dan pendidikan Vajrayana Buddha pada masa Kerajaan Sriwijaya berkuasa. Letaknya yang berada di tepi Sungai Kampar Kanan, anak Sungai Siak, menandakan bahwa pada masa itu, sungai merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan kawasan pedalaman dengan Selat Malaka. Hal ini memperkuat hipotesis bahwa situs ini berfungsi sebagai pelabuhan sekaligus pusat keagamaan.
Untuk menjaga dan melestarikan situs ini, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat, yang memiliki wilayah kerja hingga Riau, secara rutin melakukan monitoring dan konservasi. Laporan tahunan BPCB yang dikeluarkan pada akhir tahun 2024 mencatat bahwa rata-rata kelembapan udara di area candi mencapai 85%, yang mengharuskan dilakukannya tindakan konservasi kimiawi pada material batu bata secara berkala untuk mencegah pertumbuhan lumut dan mikroorganisme perusak. Selain kegiatan konservasi, pihak pengelola juga telah menetapkan waktu kunjungan edukasi yang ketat, yaitu mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB setiap hari, kecuali pada hari-hari besar keagamaan tertentu. Dengan segala kekayaan sejarah dan arsitekturnya, Candi Muara Takus adalah permata sejarah Riau yang menghubungkan masa kini dengan kejayaan peradaban Buddha di Nusantara.