Bahaya Toxic Positivity: Saat Kata Semangat Melukai Mental

Dalam beberapa tahun terakhir, kampanye mengenai kesehatan jiwa sering kali dibarengi dengan ajakan untuk selalu berpikir positif. Namun, ada batasan tipis antara optimisme yang sehat dan fenomena yang kini dikenal sebagai toxic positivity. Kondisi ini terjadi ketika seseorang—atau lingkungan sosial—menuntut adanya sikap positif yang berlebihan dan memaksakan kebahagiaan di atas segala situasi, sambil menolak atau meremehkan emosi negatif yang sebenarnya valid. Bukannya menyembuhkan, bahaya toxic positivity justru sering kali membuat seseorang merasa semakin terisolasi dalam kesedihannya.

Secara psikologis, setiap emosi yang dirasakan manusia memiliki fungsi dan pesan tertentu. Rasa sedih memberi tahu kita bahwa kita telah kehilangan sesuatu yang berharga, sementara rasa takut memperingatkan kita akan adanya ancaman. Ketika kata-kata seperti “jangan menyerah” atau “ambil hikmahnya saja” dilontarkan di waktu yang tidak tepat, hal itu secara tidak langsung membungkam proses pengolahan emosi tersebut. Alih-alih merasa didukung, penderita justru merasa bersalah karena tidak mampu merasa bahagia, yang pada akhirnya justru akan semakin melukai mental mereka.

Salah satu dampak paling nyata dari kepositifan beracun ini adalah munculnya perasaan malu (shame). Seseorang yang sedang mengalami depresi atau kecemasan mungkin akan berusaha menyembunyikan kondisinya karena merasa bahwa merasa sedih adalah sebuah kegagalan. Ketika emosi-emosi ini ditekan secara paksa demi menunjukkan citra “positif” di depan orang lain atau di media sosial, tekanan internal di dalam otak justru akan meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa menekan emosi secara konsisten dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan kronis dan masalah kesehatan fisik akibat stres yang tidak tersalurkan.

Bagaimana cara kita membedakan dukungan yang tulus dengan toxic positivity? Dukungan yang tulus biasanya melibatkan validasi dan empati. Sebaliknya, kata semangat yang beracun cenderung bersifat menyederhanakan masalah kompleks. Kalimat seperti “semuanya akan baik-baik saja” sering kali digunakan oleh orang lain sebagai jalan pintas untuk mengakhiri percakapan yang tidak nyaman tentang penderitaan. Padahal, yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang berjuang sering kali bukanlah solusi instan atau nasihat ajaib, melainkan kehadiran seseorang yang bersedia mendengar tanpa menghakimi.